Direktur Yapkema, Hanok Herison Pigai, saat menunjukkan strategi unit pengembangan kopi arabika berbasis masyarakat (UPKBM) di hadapan Bupati Deiyai, Dance Takimai di kediamannya (24/3/2017) – Yapkema

Waghete, Deiyai, Jubi – Bupati Deiyai, Dance Takimai kepada peserta Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrembangda) Kabupaten Deiyai, meminta agar merumuskan kebijakan berdasarkan kebutuhan masyarakat, seperti pengembangan kopi.

Musrembangda Kabupaten Deiyai yang dilakukan di  Aula Kantor DPRD, Waghete, Kamis (23/3) tersebut diikuti oleh seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kepala-kepala Distrik dan kepala kampung serta beberapa wakil kelompok pengembang kopi.

“Rumuskan program-program yang dibutuhkan masyarakat, seperti kopi. Yang tidak terkait langsung dengan masyarakat itu tidak perlu. Nanti saya akan cek langsung,” ujar Takimai membuka Musrembangda tersebut.

Pencanangan kopi sebagai prioritas pengembangan ekonomi Kabupaten Deiyai sudah dinyatakan beberapa tahun terakhir ini. Dance Takimai, Bupati Kabutapen Deiyai mengaku bahwa kopi sudah diprogramkan sebagai fokus Deiyai sejak kepemimpinannya tahun 2014.

“Sejak saya naik jadi bupati saya lihat masyarakat ini rata-rata punya kopi, ada beberapa kebun yang mereka miliki. Itu artinya kopi ini harus diangkat ke permukaan,” kata Takimai, ketika ditemui Jubi terpisah di kediamannya Jum’at (24/3/2017).

Dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah  (RPJMD) Takimai mengaku sudah memprioritaskan kopi, sehingga pergantian bupati tidak menggeser prioritas tersebut. “(Karena sudah masuk dalam RPJMD) Bupati berikutnya juga kalau sudah ganti dia akan tetap jalankan kopi itu.”

Dance Takimai, Bupati Deiyai di kediamannya (24/3/2017) – Yapkema

Tantangan produksi kopi Deiyai

Sejak 2014, menurut Takimai, tahapan program pengembangan kopi meliputi pendistribusian bibit.

“Kita mulai 2014, membagi bibit kopi ke masyarakat. Harapan saya itu 20-30 tahun daerah ini bisa memproduksi kopi skala besar untuk pemberdayaan masyarakat,” ujanya.

Walau pihak pemerintah termasuk Bappeda Kabupaten Deiyai tidak merinci berapa produksi kopi di Deiyai tiga tahun berjalan, namun sebanyak 200,000 bibit kopi dikatakan sudah terdistribusi sejak tahun 2014.

Sebelumnya, Direktur Yayasan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema) Hanok Herison Pigai, yang selama ini banyak mendorong pemerintah Kabupaten Deiyai dalam pengembangan dan pelatihan kopi, mengaku optimis jika setidaknya 10,000 keluarga dari 12,000 keluarga yang terdata di Kabupaten Deiyai, menanam 200 pohon kopi maka target 2000 ton kopi per tahun bisa tercapai.

Namun Robi Edoway, salah seorang petani kopi pekarangan di kawasan Bomou, Deiyai, mengatakan masalah budidaya kopi tidak lagi jadi beban pikirannya. Dia lebih menekankan perbaikan pengembangan ekonomi kopi ini dari produksi hingga pemasaran.  

“Kami menanam kopi sudah lama, yang paling penting adalah pengembangannya hingga pemasaran. Itu harus dibantu,” kata dia beberapa waktu lalu saat dikunjungi ketua Bappeda provinsi Papua, Muhammad Musa’ad.

Menurut Herison Kabupaten Deiyai memang lebih serius soal Kopi dibanding kabupaten lain, khususnya dalam hal prioritas dana dan kebijakan, namun diperlukan strategi pengembangan yang terpadu .

“Semangat jajaran pemimpinnya harus dipelihara. Hanya saja belum ada strategi yang mensinergikan seluruh OPD yang terkait dengan pengembangan kopi, sehingga tidak terpadu. Jadinya belum ada hasil yang bisa diukur,” kata dia.

Atas dasar itu pihaknya menawarkan Unit Pengembangan Kopi Berbasis Masyarakat (UPKBM) sebagai strategi pengembangan kopi arabika Deiyai, “Sehingga 2000 ton bisa tercapai. Dan itu tidak perlu lama, 4 tahun saja sudah bisa berhasil.”

“Tanpa pengorganisasian masyarakat ke dalam unit-unit atau sentra-sentra pengembangan kopi, maka akan sulit mencapai target produksi, sanggup bersaing sekaligus berkelanjutan,” kata dia.

Menurut Herison Pigai 10 sentra produksi kopi percontohan oleh UPKBM bertujuan untuk mengembangkan produksi dari sekadar mananam menjadi profesional memenangkan pasar di tanah sendiri, bahkan ekspor.

Namun pengorganisasian berbasis kelompok ini tampaknya belum menjadi perhatian Bupati Dance Takimai. “Kelompok itu agak sulit di sini, saling curiga muncul. Jadi kita lepas saja, siapa yang menanam kopi maka dapat duit (dari dana bantuan sosial langsung Bupati), begitu,” ujar Takimai.  

“Kalau semua keluarga itu aktif saya kira 2000 ton per tahun itu bisa. Yang penting tiap tahun itu kita bagi bibit,” kata dia.(*)

Sumber: Tabloidjubi

Share

No Comment

Comments are closed.