Banjir di sepanjang jalan masuk areal TK/PAUD Yegeka dan kantor Yapkema – Dok.Yapkema

Paniai, Jubi – Kurang lebih seminggu di kampung Bobaigo, Kogekotu, Ibumomaida, Iyaipugi dan Awabutu di Enarotali kota, Distrik Paniai Timur dilanda bencana banjir. Semua rumah warga, perkebunan, sampai kandang ternak ikut terendam.

Sejak banjir hingga sekarang, Direktur Eksekutif Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema) Papua, Hanoc Herison Pigai, mengatakan, belum ada penanganan serius dari Pemerintah Daerah Paniai.

Atas respon yang belum ada, Hanoc mengatakan pihaknya berinisiatif membuka posko banjir di kantor yayasannya yang kebetulan berada di kampung Bobaigo.

“Sudah dua hari kami dari Yapkema layani masyarakat di sekitar kampung ini (Bobaigo) dengan memberikan makanan berupa beras, mie rebus dan sarden. Bahkan kami masak di sini lalu mereka (masyarakat) datang makan,” kata Hanoc kepada Jubi di Enarotali, Rabu (26/7/2017).

Situasi anak-anak dan orang tua yang di Posko darurat banjir Yapkema di atas gedung sekolah TK/PAUD Yegeka Ugibutu, Enarotali Paniai – Dok. Yapkema

“Hari kedua ini (Rabu) ada berjumlah 100-an warga yang datang makan di sini,” lanjutnya.

Pihaknya mendata, rumah yang terendam banjir di sekitar kampung Bobaigo mencapai 63 rumah termasuk SMK Yamewo Paniai. “Kalau kita hitung dengan kampung Kogekotu hingga Awabutu persis di ujung lapangan terbang itu berkisar 200-an rumah,” katanya.

“Termasuk kios-kios oleh pedangan Buton dan Makassar di Iyaipugi (komplek PLN) juga kios yang ada di komplek pelabuhan Aikai. Jadi, ini kota Enarotali yang terendam, karena ini di satu area.”

Menurutnya, hingga ini belum ada peta banjir yang ditetapkan oleh DPU dan BPBD, padahal banjir itu merupakan langganan tahunan yang sering terjadi di Paniai. Ia menuding, dua instansi itu tidak punya program tetap dalam pembangunan daerah.

“Bantuan makanan cuma dari Kopassus yang datang kasih mie rebus dan sarden. Kalau dari Pemda tidak ada. Ini sangat disayangkan tingkah mereka, padahal bencana terjadi di wilayah kota Enarotali. Saya tidak tahu yang terjadi di perkampungan yang jauh dari kota,” cetusnya.

Ia menduga, kurang lebih 12 distrik telah terendam air sebab selama ini curah hujan sangat besar. Seperti di Paniai Barat, Kebo, Eka, Dei, Muyadebe, Keniyapa dan lainnya.

Warga Bobaigo, mama Yulita (35) mengatakan, air masuk dalam rumahnya sejak dua pekan lalu. Rumah yang terendam di antaranya dapur satu, rumah besar satu, kamar mandi dan kandang ternak babi, kambing, ayam dan bebek.

“Adooo, kami mau apalagi ini. Situasi begini, tidak bisa ke mana-mana, tidak bisa mengungsi karena tidak ada tenda lagi. Pemerintah dorang (mereka) ini buta lihat kami kah? Coba ada perasaan kah,” keluhnya.

Ia mengaku, air sudah setinggi dada orang dewasa sehingga untuk mengangkut barang dari rumah mereka harus menggunakan perahu. (*)

Sumber: tabloidjubi.com

Share

No Comment

Comments are closed.