Sebagian peserta FGD evaluasi Otsus Paniai berfoto bersama – dok. Yapkema

Dalam rangka mengkaji gambaran situasi dan kondisi orang asli Papua (OAP) dalam pelaksanaan kebijakan Otonomi Khusus (Otsus) di Provinsi Papua dan Papua Barat, Forum Kerjasama (Foker) LSM Papua gelar diskusi kelompok terarah, Kamis (25/10/2018) di Enarotali, Paniai.

Diskusi yang difasilitasi oleh Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema) Kabupaten Paniai ini, dilaksanakan di aula SD Yegeka, Ugibutu, Enarotali, dihadiri perwakilan dari pemerintah daerah/ASN, lembaga adat, agama/gereja, LSM/organisasi masyarakat sipil, tokoh perempuan, tokoh pemuda serta pemerhati di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi dan infrastruktur.

 

“Kami gelar diskusi ini untuk menjaring aspirasi dari berbagai elemen masyarakat tentang penerapan kebijakan Otsus yang dirasakan masyarakat Papua di Paniai selama ini sejak Otsus diterapkan di Papua tahun 2001. Sehingga kami mengundang semua elemen yang ada di Paniai,” kata direktur Yapkema, Henok Herison Pigai, usai kegiatan.

Dijelaskan, metode yang digunakan dalam diskusi adalah mendengar lalu kembali mewawancarai lebih dalam terkait pandangan yang disampaikan oleh peserta diskusi.

“Pertama kami dengar pandangan dari mereka. Setelah itu kami wawancarai kembali pandangan yang disampaikan itu lebih dalam. Lalu, kami rangkum. Yang kami ambil adalah yang penting dan menarik, entah sisi positif maupun negatif,” ungkapnya.

 

Selanjutnya, kata Pigai, rangkuman tersebut akan diteruskan ke Foker LSM Papua untuk ditindaklanjuti.

“Tadi mereka semua menyatakan Otsus gagal. Lebih baik ditiadakan dan ditarik kembali ke Jakarta. Jadi, rangkuman kami demikian. Itu yang akan kami teruskan.”

Tidak hanya diskusi, imbuh Pigai, pihaknya juga akan mendatangi masyarakat di kampung-kampung untuk menanyakan langsung kebijakan Otsus yang dirasakan di sana.

Bersamaan, Agustinus Kadepa, pemerhati pendidikan di Paniai, yang dipercayakan menjadi pemandu diskusi, mengatakan puas dengan diskusi yang digelar.

Menurutnya, karena apa yang disampaikan para peserta diskusi sesuai dengan kondisi riil yang terjadi selama ini di Paniai dan Papua pada umumnya.

 

“Misalnya seperti pemberdayaan orang Papua dalam dunia kerja. Mereka bilang anak-anak kami yang selesai kuliah, banyak masih menganggur. Saya setuju karena memang itu yang terjadi. Mereka tidak diberdayakan, sementara uang yang mengalir cukup banyak. Tidak tahu mengalirnya kemana, ke tangan siapa?. Kemudian tidak hanya itu, di bidang lain seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan dan lainnya juga disampaikan mereka bahwa gagal semua. Sekali lagi saya sepakat kalau Otsus dibilang gagal,” ujar Agus.

Mama Welmina Mote, peserta diskusi dari perwakilan mama-mama Paniai, berharap apa yang disampaikan dapat ditindaklanjuti.

“Dalam diskusi kami semua bilang Otsus gagal. Itu sudah direkam. Jadi, kami harap apa yang kami sampaikan itu bisa diteruskan ke mana-mana supaya semua tahu bahwa orang Paniai tidak mau Otsus,” kata Mama Mote.

Share

No Comment

Comments are closed.