Hanok Herison Pigai, National Master Trainer SCOPI di ajang Jacoweek 2018 – detik foto

Indonesia punya ragam kopi lokal, salah satunya dogiyai. Kopi arabika asal Papua ini, masih jarang ditemui di Indonesia karena penyebarannya terbatas dan harganya cukup tinggi.

Selain kopi Gayo dan Toraja, Papua juga memiliki biji kopi yang tak kalah enak. Budidaya kopi di wilayah Papua memang belum banyak, tapi biji kopi dogiyai mulai ditanam sejak tajun 1950-an yang dikenalkan oleh misionaris Belanda.

Kopi arabika jenis Tpyica ini, biasanya ditanam di sekeliling lembah Kamuu yang berada di pegunungan Mapia, di Kabupaten Dogiyai, Papua. Selain dikenal sebagai biji kopi dogiyai, orang Papua lebih sering menyebutnya sebagai ‘Kopi Moanemani’.

“Kopi Papua memang masih jarang ditemukan di kafe atau tempat kopi lainnya. Berbeda dengan kopi dari Gayo atau Jawa, kopi Papua ini harus menempuh perjalanan yang sangat panjang untuk bisa sampai di sini,” tutur Hanok Herison Pigai, selaku petani kopi lokal sekaligus aktivis dari Papua, ke detikFood (29/09).

Ditemui dalam acara Jakarta Coffee Week 2018, Hanok mengaku hanya mampu membawa 50 kg biji kopi dogiyai ke Jakarta. Keterbatasan transportasi, dan jauhnya jarak tempuh membuatnya hanya mampu membawa sedikit biji kopi, dibandingkan petani kopi lokal dari wilayah lain yang bisa membawa 200-300 kg biji kopi.

“Selain transportasi yang sulit, kenapa kopi dogiyai ini masih jarang peredarannya. Karena kuantitas produksi memang terbatas, dibutuhkan sekitar 2-4 bulan untuk menanam biji kopi dogiyai ini. Selain masa panen yang lama, kami memang membatasi kuantitas untuk menjaga kualitas kopi,” lanjut Hanok.

Kopi dogiyai sendiri termasuk ke dalam kopi jenis speciality grade, dengan kualitas nomor satu. Kopi ini punya aroma kacang panggang yang gurih, lalu ada jejak rasa karamel yang menggigit dan rempah lainnya. Di akhir tegukan, Anda akan merasakan semburat rasa cokelat di kopi ini.

Kisaran harga biji kopi dogiyai ini dimulai dari Rp. 200.000,- per kilonya, tapi harganya bisa mencapai Rp. 500.000,- jika sudah sampai ke Jakarta.

“Kopi dogiyai ini punya rasa dan kualitas terbaik, karena kami membagi proses pengolahan ke empat bagian. Yaitu proses Honey, Semi Washed, Full Washed, dan Natural Process. Sehingga kami bisa memastikan bahwa kopi arabika dogiyai merupakan kopi organik,”
Hanoi juga menjelaskan bahwa ia aktif mengikuti festival-festival kopi di Indonesia, untuk memperkenalkan kopi dogiyai ke banyak orang. Ia ingin Papua menjadi kawasan potensial untuk pengembangan kopi, sekaligus membantu ekonomi petani kopi di sana, mengingat besarnya minat kopi di Indonesia dan kopi lokal telah menjadi komoditi ekspor ke berbagai negara.

“Saya dan petani kopi lokal lainnya, merasa ini sebagai sebuah kebanggaan bisa hadir di festival kopi Indonesia untuk merepresentasikan kopi dan budaya Papua. Meski hingga kini pihak pemerintah belum memperhatikan sektor kopi lokal di Papua, tapi kami akan terus memperkenalkan kopi-kopi dari Papua,” pungkas Hanok.(detik.com)

Share

No Comment

Comments are closed.