Logo Yayasan EcoNusa/Ist

Pada awal pertengahan Februari 2021, dua orang dari Yayasan EcoNusa bersama satu orang peracik kopi (barista) dari Bogor, Septian Mega Prasetya, datang ke Paniai, Papua untuk melakukan asesmen guna memulai program pengembangan kopi bagi masyarakat adat di Paniai.

Di Paniai, selama tiga hari (09 – 11 Februari), tim dari EcoNusa ditemani YAPKEMA menemui beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti BAPEDDA, Dinas Pertanian, DPMK, dan bupati Paniai, Meki Nawipa. Pada hari kedua, tim EcoNusa bersama YAPKEMA juga mengunjungi kebun kopi (lama dan baru) milik masyarakat di kampung Mogeya, sekaligus mengadakan kegiatan coffee cupping di sana.

Tujuan dari pertemuan dengan beberapa OPD dan bupati adalah untuk memastikan bagaimana kesiapan pemerintah, upaya-upaya apa saja yang sudah, sedang, dan akan dikerjakan oleh pemerintah, dan bagaimana bentuk intervensi serta keterlibatan masing-masing pihak di pemerintahan kabupaten dalam upaya menyelenggarakan pembangunan di bidang ekonomi.

Kedatangan tim EcoNusa juga sekaligus sebagai bentuk kulo nuhun atau permohonan izin kepada pemerintah yang ‘mempunyai’ tempat, karena di kemudian, EcoNusa bekerjasama dengan YAPKEMA akan memulai program pengembangan kopi bagi masyarakat adat di Paniai.

Mengunjungi Kampung Mogeya

Rabu pagi, tanggal 10 Februari 2021, tim dari EcoNusa dan YAPKEMA menuju ke kampung Mogeya, distrik Paniai Barat untuk melakukan beberapa kegiatan bersama masyarakat di sana. Akses jalan darat ke Mogeya belum ada, sehingga harus menggunakan perahu johnson.

Dari Dermaga Aikai, Enarotali, kami 10 orang termasuk pengemudi berangkat sekitar pukul 08.45 WIT. Perahu johnson yang membawa kami menuju kampung Mogeya melesat membelah danau Paniai yang sepagi itu masih tenang tak berombak. Tiba di sana pukul 09.15 WIT, diterima dengan hangat oleh warga masyarakat.

Tim EcoNusa bersama YAPKEMA saat menuju ke kampung Mogeya menggunakan perahu johnson (10/02/2021) – Dok: YAPKEMA

Beberapa kegiatan yang digelar di kampung Mogeya antara lain, meninjau kebun kopi lama milik warga; meninjau kebun kopi baru milik warga; dan cupping kopi.

Meninjau Kebun Kopi Lama Milik Warga

Setelah tiba, tim EcoNusa dan YAPKEMA tidak langsung meninjau kebun kopi lama milik warga masyarakat, namun lebih dulu menengok bibit kopi dalam polybag di bawah naungan rumah paranet. Di tempat persemaian kopi yang terletak di pinggir dermaga kampung Mogeya itu, sekitar 20 ribu bibit kopi dibanjar rapi. Sebagian sudah diambil warga untuk ditanam di lahan baru yang sudah disiapkan.

Bibit disediakan oleh ‘Papua Enauto’, bagian unit usaha dari YAPKEMA. Bagi masyarakat sekitar yang ingin menanam di lahan barunya, bisa datang ambil, maksimal 50 bibit pohon kopi. Jika lebih dari itu, harus bayar.

Selanjutnya, tim EcoNusa dan YAPKEMA bergeser ke rumah bapak Adam Pigai, salah satu petani kopi di Mogeya. Bapak Adam menunjukan 2 kilo biji kopi (green bean) yang siap dijual. Kopi itu dicek tingkat kekeringannya oleh Septian Mega Prasetya.

Hasilnya, kopi milik bapak Adam masih basah, kira-kira 30 persen. Sedangkan idealnya adalah 12 persen. Bapak Adam disarankan untuk menjemurnya lagi untuk mencapai taraf ideal dan sesuai permintaan pasar.

Septian Mega Prasetya, barista dari Bogor, saat mengecek biji kopi (green bean) milik bapak Adam Pigai di rumahnya (10/02/2021) – Dok: YAPKEMA

Selanjutnya, tim EcoNusa dan YAPKEMA ke belakang rumah bapak Adam untuk meninjau kebun kopinya. Kebunnya rimbun, beberapa pohon seperti jambu biji, jambu bol Jamaika, dan jeruk lemon menjadi tumbuhan penaung. Pohon kopinya tinggi-tinggi, belum pernah dipangkas. Buahnya tidak lebat, hanya dua sampai tiga buah di setiap dahan. Ada juga buah kopi yang tinggi-tinggi, sehinga sulit dipetik.

Tim dari EcoNusa dan YAPKEMA menyarankan supaya tumbuhan penaungnya dikurangi dan kopinya dipangkas agar setiap pohon mendapatkan sinar matahari yang cukup dan berbuah baik.

Meninjau Kebun Kopi Baru Milik Warga

Setelah dari kebun milik bapak Adam, tim EcoNusa dan YAPKEMA kemudian meninjau kebun baru milik bapak Naftali Pigai. Kebunnya berlokasi tidak jauh dari kebun milik bapak Adam. Terletak di lereng perbukitan di pinggir danau Paniai. Luas kebunnya kira-kira 40 X 200 meter persegi, memanjang ke belakang.

Bapak Naftali mulai menanam kopi pada Juli 2020. Terbaru, ditanami satu bulan yang lalu. Jumlah pohon kopi yang ditanam kini sudah mencapai 800. Beberapa pohon yang ditanam 7 bulan lalu kini sudah mulai berbunga. Untuk pupuk, kata Naftali, menggunakan pupuk organik dari tahi ayam dan dedaunan yang sudah kering.

“Saya taruh di sekitar pohon kopi,” katanya. Sebagai tanaman sela, Naftali menanam ubi jalar. Sedangkan untuk tumbuhan penaung, baru akan ditanam dalam waktu dekat.

Hanok Herison Pigai, direktur YAPKEMA (kiri) dan Septian Mega Prasetya, barista dari Bogor (tengah) sedang mengecek perkembangan tumbuhan kopi yang baru ditanam 7 bulan lalu milik bapak Naftali Pigai (bagian kanan) – Dok: YAPKEMA

Ibu Neci Gobai, istri dari Naftali Pigai menekankan pentingnya kerja bersama-sama dalam sebuah keluarga. “Ini kebun bisa ada karena kami bekerja sama-sama. Tidak ada yang malas-malas. Semuanya kerja untuk nanti bisa dapat hasilnya sama-sama,” katanya.

Ibu Neci mengaku, ada tiga orang yang membuka lahan dan menanam kopi yaitu bapak Naftali, Ibu Marike Degei yang adalah istri kedua dari Naftali, dan dia sendiri.

Meninjau Kebun Kopi Lama Milik Warga

Kebun kopi lama yang ditinjau selanjutnya adalah milik bapak Thomas Pigai. Kebunnya tidak terlalu luas, terletak di samping rumahnya. Lokasi rumahnya yang kira-kira 40 X 70 meter dia petak-petakan menjadi beberapa bagian. Ada beberapa bedeng tanaman ubi jalar dengan tanaman tebu dipinggirannya, ada kandang ayam, ada pekarangan, yang di sudut-sudutnya tumbuh subur tanaman jipang, ada kolam ikan, dan kebun kopi.

Terdapat 20-30 tanaman kopi dengan pohon cemara sebagai tumbuhan penaungnya. Kebun kopi milik bapak Thomas terawat baik. Setiap pohon terlihat selalu dipangkas sehingga tidak terlalu rimbun dan tinggi. Antara satu pohon dengan pohon lainnya ada jarak. Buah pada setiap dahan pohonnya pun cukup lebat.

Foto di kebun kopi milik bapak Thomas Pigai. Dari paling kiri, Septian Mega Prasetya, barista dari Bogor, Thomas Pigai, petani kopi di kampung Mogeya, Ananias Pigai, kepala kampung Mogeya, dan Hanok Herison Pigai, direktur YAPKEMA (10/02/2021) – Dok: YAPKEMA

Cupping Kopi

Setelah meninjau kebun kopi, selanjutnya warga masyarakat, terlebih khusus yang punya kebun kopi, dikumpulkan untuk mendengarkan penjelasan seputar cupping kopi dari Septian Mega Prasetya. Septian menjelaskan, cupping adalah cara atau metode untuk menilai karakteristik rasa dan aroma dari setiap biji kopi dengan mencium dan menyeruput  kopi sesuai urutan.

“Dengan melakukan cupping, kita bisa membandingkan karateristik rasa biji kopi antara yang satu dengan yang lainnya. Dengan mengenal karakteristik setiap biji kopi yang berbeda, kita bisa mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan luas mengenai kopi,” jelasnya.

Tidak semua masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pada saat itu bisa mendengar (memahami) dan berbicara bahasa Indonesia. Hal itu membuat Hanok, dari YAPKEMA, menjadi penerjemah dalam bahasa setempat, agar masyarakat sebagai penerima pesan bisa paham materi yang disampaikan.

Beberapa gelas berisi bubuk kopi yang berbeda-beda untuk dicium aromanya oleh masyarakat peserta kegiatan. Beberapa peserta kegiatan juga tanpak sedang mencium aroma bubuk kopi. (Dok: YAPKEMA)

Setelah masyarakat mendapatkan materi berupa teori, selanjutnya adalah praktik. Septian sediakan beberapa gelas, lalu mengisi bubuk kopi dalam takaran tertentu. Bubuk kopi pada setiap gelas berbeda-beda. Ada kopi Sumatra, kopi Sulawesi, kopi robusta dari kepulauan Yapen, kopi Dogiyai, dan beberapa jenis kopi lainnya.

Di bawah setiap gelas ada kertas bertuliskan nama dan asal kopi yang dilipat sehingga tidak terlihat. Masyarakat disuruh mencium aroma kopi dan memberikan tanggapan. Hasilnya, ada kopi yang baunya tajam, ada yang sedang, ada pula yang bahkan tidak ada bau apa-apa.

Itu di atas tahap pertama. Tahap kedua, setiap gelas yang tadinya berisi bubuk kopi itu dituangkan air panas dan diaduk hingga merata. Masyarakat lantas disuruh menyeruput kopi menggunakan sendok satu persatu dan memberikan tanggapan.

Hasilnya, rasa kopi tidak hanya pahit, sedang, dan tidak pahit/biasa saja. Ada sedikit rasa jagung pada satu gelas. Sedangkan di dua gelas lainnya, terdapat rasa asam. Ada juga satu gelas yang seperti sudah diberi sedikit gula. Padahal belum.

Selanjutnya, setelah masyarakat menyeruput kopi dan memberikan tanggapan, kertas di bawah setiap gelas dibalik sehingga tulisan nama serta asal kopi kelihatan. Ada satu gelas yang kopinya terlalu pahit. Ternyata itu kopi robusta dari Yapen. Kopi robusta memang kadar kafeinnya tinggi, sehingga karakter rasanya pahit. Sebagian besar masyarakat menyenangi kopi robusta tersebut karena pahit, dan warnanya yang gelap pekat.

Peserta kegiatan sedang menyeruput satu persatu kopi untuk mengenali karakter rasa kopi. (Dok: YAPKEMA)

Usai dua tahap di atas, Septian bertanya kepada masyarakat, apakah hampir setiap kopi rasanya berbeda-beda. Masyarakat serentak menjawab, “Iya, betul”. Ia menjelaskan, pada dasarnya kopi dari setiap daerah punya cerita dan ciri khas rasa sendiri-sendiri. Rasa kopi yang siap diminum, urai Septian, dipengaruhi oleh banyak hal.

“Mulai dari kondisi bentang alam setempat, jenis tumbuhan di sekitar pohon kopi, pemilihan saat petik buah ceri dari pohon, penyortiran, proses pasca panen seperti penjemuran, penyimpanan, dan seterusnya. Semuanya itu pada akhirnya akan mempengaruhi rasa kopi,” urai Septian, yang kemudian diterjemahkan dengan bahasa Mee oleh Pak Hanok.

Septian Mega Prasetyo saat menyampaikan beberapa hal yang menjadi poin penting dari cupping kopi bersama warga masyarakat. (Dok: YAPKEMA)

Kepada sekitar 20-an peserta yang hadir, tim EcoNusa menjelaskan bahwa kopi selain memiliki nilai ekonomi karena bisa dijual, dapat uang, dan membiayai berbagai kebutuhan, juga punya fungsi ketahanan ekologis. Misalnya menanam kopi di lereng bukit atau gunung, disertai tumbuhan penaung, di situ ada dua manfaat sekaligus. Pertama, bisa menjadi sumber pendapatan ekonomi keluarga, kedua, bisa mencegah erosi atau pengikisan tanah di lereng bukit/gunung, termasuk penghijauan alam (reboisasi).

Vanji Dwi Prasetyo, saat menjelaskan tentang bagaimana pembudidayaan kopi yang ramah lingkungan. (Dok: YAPKEMA)

Tim EcoNusa juga menyarankan ke para petani kopi agar selalu menggunakan pupuk alam, yaitu pupuk yang tidak melalui proses kimia dan ramah lingkungan, seperti tahi binatang dan daun-daunan. Sebagai contoh, bapak Naftali Pigai yang menggunakan tahi ayam dan dedaunan kering sebagai bahan pupuk organik.

Selanjutnya, rangkaian kegiatan di kampung Mogeya pada hari itu, yakni meninjau kebun kopi lama milik warga; meninjau kebun kopi baru milik warga; dan cupping kopi; selesai pada pukul 1 siang. Selanjutnya, makan siang, istirahat – santai.

Saat santai, ada arahan dari kepala kampung Mogeya. Ia mengatakan, seperti tahun sebelumnya, kedepan akan memberikan dana insentif dari dana desa kepada para petani kopi. Hal ini supaya para petani kopi terus semangat merawat kopi. Dan bagi yang belum menanam kopi, supaya terpicu untuk menanam kopi.

Tim dari EcoNusa bersama YAPKEMA sedang dalam perjalanan pulang ke Enarotali dari kampung Mogeya, Paniai Barat. (Dok: YAPKEMA)

Pada pukul 02.15 WIT, tim dari EcoNusa dan YAPKEMA meninggalkan kampung Mogeya menuju ke Enarotali menggunakan perahu johnson. []

Share

No Comment

Comments are closed.