Luapan Danau Paniai yang menggenangi Ugibutu, Enarotali – Yapkema dok

 

 
Enarotali, Yapkema (28/8/17),  Luapan Danau Paniai telah merendam lebih dari lima puluh persen wilayah Kabupaten Paniai sejak Juli 2017, setidaknya meliputi Distrik Paniai Barat, Paniai Timur, Muye, Ekadide, Teluk Deya, Kebo, Yagai, Nakama, Topiyai, Agadide, Wegemino dan Distrik Bibida. 
 
Aktivitas publik dan layanan umum seperti sekolah, gereja dan Puskesmas lumpuh. Sumber-sumber makanan, mata pencaharian dan tempat tinggal masyarakat hancur.
 
 
Hal ini disebabkan bukan saja karena curah hujan yang tinggi dan terus menerus mengguyur Paniai. 
 
Banjir akibat luapan Danau Paniai ini sudah menjadi bencana tahunan yang bisa diprediksi akan terjadi, dengan penyebab yang sudah diketahui setidaknya sejak tujuh tahun terakhir. 
 
 
Artinya, luapan air Danau yang merendam setidaknya 12 Distrik di Kabupaten Paniai itu bukan kategori bencana alam, melainkan akibat dari kelalaian pengambil kebijakan dan masyarakat yang hidup di sekitar Danau yang tidak MENGAMATI, MENGAWASI dan MENELITI aktivitas dan perubahan fisik Danau Paniai.
 
Tidak ada pihak yang peduli untuk melestarikan dan mengelola Danau Paniai sebagai pusat peradaban masyarakat Mee. Padahal adanya kehidupan di tempat yang dahulu disebut Wisselmeren itu ada karena adanya Danau tersebut. 
 
 
Bantuan beras ke distrik-distrik yang terkena dampak, yang dilakukan Pemkab Paniai melalui Dinas Sosial saat ini,  seperti diberitakan di situs Humas Kabupaten Paniai adalah tugas rutin tanggap darurat yang sudah menjadi kewajiban sebagai penyelenggara pemerintahan. Itu bukan tindakan yang luar biasa.
 
 
Sementara masyarakat yang hidup bergantung pada Danau saat ini membutuhkan tindakan cepat dan luar biasa. Karena peningkatan volume luapan saat ini sudah luar biasa.
 
Dengan volume luapan air yang semakin tinggi, ditambah curah hujan akibat perubahan iklim yang semakin lama dan tak menentu, maka pendekatan dan penanganan terhadap luapan air Danau Paniai ini harus segera, terpadu dan bersinergi bersifat jangka panjang. Jika tidak, peradaban orang Mee akan musnah.
 
Sudah sejak tahun 2011, ketika banjir akibat luapan Danau tahun itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Paniai waktu itu, FX Mote, sudah pernah menyimpulkan bahwa penyebab utama luapan air Danau adalah akibat pendangkalan yang dialami 30 persen wilayah Danau dan perkembangan pertumbuhan gulma (Kompas, 2011). 
 
Hal itu, menurut Mote, menyebabkan daya tampung danau yang menerima air dari tujuh sungai besar yaitu Sungai Aga, Sungai Eka, Sungai Weya, Sungai Koto, Sunga Muye, Sungai Waneuwo, dan Sungai Kowabeu semakin semakin mengecil. Apalagi ditambah dengan aktivitas penebangan kayu dan pembukaan lahan baru di pegunung yang mengelilingi Danau.
 
Sejak tujuh tahun lalu penyebab tersebut telah disimpulkan pemerintah. Namun tujuh tahun berlalu, hingga saat ini tidak ada tindakan sama sekali untuk melakukan perbaikan penanganan luapan Danau akibat pendangkalan tersebut. 
 
 
Padahal, sekitar 350.000 ribu penduduk hidup dari, bergantung dan terhubung dengan Danau Paniai.
 
Artinya, bila kondisi ini dibiarkan tanpa ada terobosan penanganan sumber penyebab, bisa dipastikan tujuh tahun ke depan Kabupaten Paniai tinggal kenangan. 
 
Menurut mantan Kepala Bapedalda Kabupaten Paniai, Barnabas Gobai, bahkan sudah sejak tahun 2002 Danau Paniai sudah diketahui semakin mendangkal. 
 
Menurut dia, pendangkalan terjadi sangat signifikan, yaitu sebesar 55 meter dalam 10 tahun terakhir (situs KBR 68H dikutip oleh situs humas pemkab Paniai). Padahal, lanjut dia, pada tahun 1935 kedalaman Danau yang diukur oleh para misionaris mencapai 300 meter.
Saat ini terbukti, longsoran disekitar danau, misalnya yang terjadi Agustus 2017 di Kampung Mogeya, Distrik Paniai Barat, Kampung Damuto dan Kampung Muye di Distrik Muye, masuk langsung ke Danau saat curah hujan tinggi. Tak saja mendangkalkan Danau, longsoran semacam ini juga mengakibatkan masyarakat kehilangan tempat tinggal.
 
Tumbuhnya eceng gondok yang semakin berkembang cepat dan banyak juga telah mengambil alih ruang penampungan air. Tumbuhan ini membuat pendangkalan baru. 
 
Tumbuhan ini sudah mengambil alih permukaan danau sekitar 6HA di Enarotali, antara Bobaigo hingga Aikai serta beberapa tempat di seputaran kawasan Weya, Aga dan Kebo yang belum bisa pastikan luasannya. 
 
Masyarakat Paniai tidak bisa mengontrol curah hujan, karena perubahan pola curah hujan disebabkan perubahan iklim global. Tetapi pemerintah dan masyarakat *BISA* mengatasi luapan air Danau dengan kebijakan terpadu guna mengatasi sedimentasi (pendangkalan) dan meluaskan tutupan gulma (seperti enceng gondok). 
 
Sayang sekali, hingga saat ini kita masih saja berkutat menangani dampak luapan Danau, belum bergerak menggali dan menangani pencegahan dari akibat  akibat yang menimbulkan luapan. 
 
Terlebih lagi kita belum pun bicara soal potensi Danau Paniai, mulai dari potensi produksi ikan dan ekowisata yang sungguh menjanjikan yang akan meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat dan pendapatan asli daerah.
 
 
 
Solusi darurat, menengah dan jangka panjang
 
Apa yang harus kita lakukan?
 
1. Tanggap bencana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) harus berfungsi sesuai tugasnya. Harus ada upaya-upaya pencegahan dan mitigasi. Rehabilitasi akibat bencana harus ditangani. Jangan hanya bagi-bagi beras, karena itu bukan tugasnya.
 
2. BPBD juga memiliki fungsi advokasi, seharusnya bisa menjangkau Dinas Pekerjaan Umum dan BAPEDALDA serta Dinas Perkebunan dan Kehutanan dalam hal reboisasi/reklamasi untuk mengatasi penyebab. BPBD bukan pemadam kebakaran. 
 
3. Selain itu BPBD juga harus memberi penyadaran pada masyarakat bukan hanya menanam pohon di pinggir danau tetapi juga menambah wawasan masyarakat untuk mengontrol pengambilan kayu dan pembukaan lahan baru di tengah hutan sekitar sungai – sungai yang sekarang telah mengakibatkan longsor di mana – mana. 
 
4. Mengeruk eceng gondok serta mengeruk rawa  rawa hidup di lembah Weya dan Aga sehingga dapat berfungsi menampung penambahan volume air tersebut.
 
5. Pemerintah perlu mengecek ada apa di hulu di sungai Yawei yang selama ini berfungsi untuk membuang air dari Danau Paniai. Kalau misalnya pembuangan di sungai Yawei sudah mulai bermasalah maka perlu dibersihkan, atau alternatif satu  satunya adalah membuka irigasi berskala besar di Deyatei, Distrik Teluk Deya, untuk mengalirkan kelebihan volume air Danau.
 
6. Penanganan terpadu sampah di kawasan Kota Enarotali dan Madi yang sekarang membuang sampah-sampah pasar dan rumah tangga langsung ke Sungai Enarotali dan berhamburan mulai dari Gunung Ekaugi sampai di tengah kota Enarotali.
 
7. Pemerintah harus segera menyiapkan sumber daya untuk menetapkan instansi yang fokus mengurus aktivitas danau dan pengelolaan potensinya. Seperti yang di lakukan di wilayah lain di Indonesia misalnya UPTD penanganan aktivitas gunung Merapi. 
 
Kita jangan hanya heboh karena masalah yang ditimbulkan akibat luapan Danau Paniai. Ke depan kita harus lebih heboh untuk memikirkan potensi Kota Ekowisata Danau Paniai, serta mempersiapkan Danau Paniai sebagai pusat produksi ikan dalam jumlah yang besar untuk menjamin  beberapa kabupaten disekitarnya. 
 
Hanya dengan PEDULI masa depan dan potensi Danau Paniai kita bisa berbangga menjadi Orang Paniai. 
 
Enarotali, 28 Agustus 2017
 
HANOK HERISON PIGAI
Direktur YAPKEMA Papua
Share

No Comment

Comments are closed.