RILIS YAPKEMA

Bupati Paniai, Meki Nawipa (tengah), Kepala BPMK dan Direktur YAPKEMA di Stand kopi Paniai Enauto saat acara Bursa Inovasi Desa 2018 – Yapkema dok

Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) mengapresiasi upaya Bupati Kabupaten Paniai, Meki Nawipa, mengumpulkan pihak-pihak terkait guna memulai gerakan tanam kopi di Paniai.

Pada hari Senin, 25 Februari 2019, bertempat di Ruang Rapat Bupati, Bupati Paniai telah hadirkan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (DPMK), Dinas Perkebunan, Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Technical Assistance (TA) Desa dan YAPKEMA dalam pertemuan yang dipimpin langsung oleh Bupati Meki Nawipa.

Rapat koordinasi perdana soal pengembangan kopi Paniai, Senin (25/2/2019) melibatkan lintas dinas, Technical Assistance desa dan YAPKEMA, dipimpin Bupati Paniai, Meki Nawipa – Yapkema dok

Dalam pertemuan koordinasi perdana tersebut membahas tentang strategi Pengembangan Kopi Berbasis Masyarakat (UPKBM), yang rencananya akan dikembangkan di 5 titik sentral. Tujuannya agar terbangun kesepahaman tentang strategi UPKBM dan pengarahan teknis lainnya.

Bagi kami, pertemuan perdana ini adalah capaian penting sebagai salah satu indikator awal keberhasilan program prioritas pemerintah. Selama ini upaya YAPKEMA mendorong budidaya kopi dan pendampingan petani kopi di kabupaten lain di Mepago, belum berhasil mendorong pemerintah setempat melakukan pertemuan multipihak semacam ini.

Mengapa pertemuan multipihak penting? Karena pengembangan kopi itu melibatkan banyak pihak. Dinas perkebunan dan pertanian bertanggung jawab terkait budidaya kopi di bagian hulu, mulai dari penanaman hingga proses pasca panen. Dinas Perindag bertanggung jawab pada bagian hilir yaitu pengolahan dan pemasaran kopi siap saji termasik cafe kopi.

Sedangkan DPMK berperan penting dalam menyiapkan dan memastikan keterlibatan masyarakat kampung dalam pengembangan kopi.

Skema ini diharapkan akan menghilangkan ego sektoral demi keberhasilan program pengembangan kopi. Kedua, agar ada kolaborasi sekaligus sinergi dalam upaya mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat di sektor kopi.

Namun demikian ada beberapa hal yang harus diantisipasi.

YAPKEMA sangat berharap keseriusan ini jangan hanya semangat di tahap awal saja, dan bersifat seremonial. Kerja keras, sinergi pengawalan konsisten dan fokus adalah syarat utama bila ingin berhasil.

Pekerjaan selanjutnya yang dibutuhkan adalah penyiapan bibit (pembibitan) yang berkualitas. Kami tekankan soal kualitas karena gerakan budidaya kopi yang perlu kita bangun bukan sekadar menanam kopi tetapi kopi dari benih yang memenuhi standar kualitas nasional bahkan internasional. Hal ini harus kita siapkan sejak sekarang jika ingin turut bermain di pasar internasional.

Seiring dengan itu, kita sekaligus segera menyiapkan sumber daya petani, khususnya generasi petani muda kopi, melalui rangkaian training pengembangan kopi dari hilir hingga hulu. Ini adalah syarat utama keberhasilan gerakan ini. Tanpa pengetahuan yang baik, semangat untuk menanam kopi jadi kurang terarah dan bisa berujung gagal. Petani muda harus dibekali pengetahuan terbaru budidaya hingga proses pasca panen kopi. Bahkan bila minat tinggi bisa dibekali ilmu peracikan kopi (barista).

Hal penting lainnya adalah penanaman sesuai target, yaitu luasan lahan dan jumlah pohon kopi yang ditanam. Menurut kami, jumlah total luasan lahan kopi minimal 1 hektar atau 1500-2000 pohon. Bila kurang dari jumlah tersebut, yang dikhawatirkan adalah potensi kegagalan tanam. Selain itu juga, jumlah yang kurang dari itu belum menunjukkan adanya gerakan budidaya kopi yang signifikan di satu kampung. Apalagi, misalnya, pohon-pohon kopi lama sejak zaman Belanda yang masih ada jumlahnya bisa melebihi 1000 pohon.

Karena itu, untuk dapat mengawal dan menjamin keberhasilan pengembangan kopi ini YAPKEMA sangat mendorong strategi budidaya kopi melalui skema UPKBM.

Melalui strategi ini YAPKEMA ingin memastikan keterlibatan dan peran serta aktif masyarakat dan petani kopi dalam pengembangan kopi.

UPKBM juga akan menjamin pengembangan dan perlindungan terhadap kearifan lokal di sektor kopi. Seperti, budidaya kopi organik yang telah turun temurun dilakukan petani kopi yang masih aktif.

Bagi kami kopi BUKAN soal bisnis belaka, melainkan soal rasa memiliki terhadap tanah dan kampung mereka. Dan hal itu sangat memengaruhi kualitas dan rasa kopi. Selain itu juga akan memberi hasil yang dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Inilah wujud kedaulatan ekonomi demi menjamin masa depan seluruh petani kopi dan Orang Asli Papua (OAP) secara umum.

Melalui strategi UPKBM YAPKEMA hendak mewujudkan itu.

 

Enarotali, 28 Februari 2019

Hanok Herison Pigai
Direktur YAPKEMA dan Master Trainer kopi tingkat nasional

Share

No Comment

Comments are closed.