Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dogiyai, Papua baru mengolah dua dari lima wilayah adat Meepago dan Lapago untuk perkebunan kopi.

Pemkab mengandalkan 79 kelompok petani dari setiap desa yang baru dua tahun belakangan ini intens mengolah kebun kopi jenis arabika. Masing-masing kelompok punya kebun dengan luas rata-rata 1,5 hektar khususnya jenis kopi Arabika.

“Dogiyai sangat potensial untuk komoditas unggulan kopi, selain buah merah. Tapi pengolahan masih sangat tradisional, kami butuh modernisasi. Kualitas kopi belum stabil, kuantitas belum maksimal. Kami juga butuh hibah dari pemerintah pusat agar pengolahan kopi kami bisa setara dengan kopi asal Toraja, Flores/Bajawa dan lain sebagainya,” Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kab. Dogiyai, Andrias Gobai mengatakan kepada Business News (17/10).

Pemkab Dogiyai juga akan mendorong program hilirisasi kopi, yakni dari kebun sampai pada gelas (cangkir). Sehingga berbagai program dan aktivitas seperti auction (lelang), TOT (training of trainers), penyuluhan dan lain sebagainya didorong secara intens.

“Program kerjasama yang ada baru Scopi (Sustainable Coffee Platform Indonesia). Kami butuh biaya besar, tidak hanya peralatan, tapi juga modal. Karena akses kami sangat jauh, sampai harus melewati pegunungan.”

Salah satu kopi Dogiyai yang dipamerkan pada ajang TEI (Trade Expo Indonesia) 2016 yakni kemasan Mamo.

Terbuat dari kopi pilihan terbaik Papua, Mamo dijual dengan harga Rp40 – Rp50 ribu per kemasan 200 gram. Mamo coffee terbuat dari biji kopi special pilihan dari tanaman oldbryd Arabica yang tumbuh di dataran tinggi pegunungan Mapiha, Papua. Proses pengolahan dalam kurun waktu yang tepat dengan sangat spesifik. Sehingga aroma dan rasa kopi sungguhan, dengan tingkat keasaman yang pas.

“Kopi kami berada pada ketinggian di atas rata-rata (kondisi geografis) Flores, Toraja. Sehingga kami dapat biji kopi terbaik. Seluruh (daerah di) Indonesia tidak bisa menang dari kopi Arabica pada ketinggian Papua. Kami tidak punya robusta. Dengan promosi, kopi Papua nantinya bisa setara dengan (kopi) dari daerah lain seluruh nusantara.”

Di tempat yang sama, Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat atau Yapkema Kab. Dogiyai mengaku sangat senang setelah mendapat kesempatan hadiri acara pelatihan dan seminar Scopi (Sustainable Coffee Platform Indonesia). Kedua acara tersebut berlangsung pada ajang TEI (Trade Expo Indonesia) 2016 (12 – 16 Oktober).

“Pertama kali kami bisa ikut pameran, pelatihan di Jakarta. Saya sebagai aktivis Yapkema, tetapi juga petani kopi di Dogiyai. Kami ikut pameran, dan optimis peluang kopi Papua sangat besar,” Hanok Herison Pigai, direktur eksekutif Yapkema mengatakan kepada Business News (18/10).

Yapkema juga melihat ada keseriusan Pemkab. Dogiyai untuk mendongkrak sektor perkebunan kopi. Ada beberapa petani yang sudah puluhan tahun mengolah kebun kopi. Tetapi hanya beberapa yang bertahan, karena keterbatasan akses pemasaran dan infrastruktur. “Karena daerah Dogiyai adalah pegunungan. Hanya (kabupaten) Wamena yang datar. Kami harus membawa kopi-kopi kami melewati gunung-gunung.”

Dogiyai sejak dulu dikenal sebagai salah satu daerah produksi kopi, tepatnya sejak era tahun 1970-an. Tetapi produksi semakin menurun dari tahun ke tahun karena tidak ada dukungan dari pemerintah. Tetapi dua tahun belakangan, Pemkab mulai sadar bahwa perkebunan kopi Dogiyai sangat potensial.

Kesadaran ini semakin memuncak ketika mantan Menteri Perdagangan Thomas Lembong berkunjung ke Dogiyai. “Pak Thomas sebagai menteri pertama yang berkunjung ke Dogiyai. Beliau meluncurkan program ‘Bangga Aduk Kopi Papua’. Kunjungan beliau sebagai momentum  kebangkitan Kopi Papua.”

Kuantitas perkebunan, produksi kopi di Dogiyai bisa lebih dikenal ketimbang kopi dari Kabupaten Wamena. Pemkab Dogiyai memanfaatkan kunjungan Thomas Lembong untuk bisa akses ke pasar yang lebih luas. Melalui Andrias Gobai, Pemkab akhirnya diundang untuk ikut partisipasi pameran pada TEI 2016. “Pak Andrias bisa menjadi model, aktif me-lobby. Sehingga kami juga dipercaya untuk menanda-tangani MoU (memorandum of understanding) kerjasam ­Dogiyai dengan Scopi.”

Di tempat yang sama International Coffee Organization (ICO) melihat perlunya peningkatan kapasitas produksi kopi nasional Indonesia. Kendatipun pasar domestik semakin menggeliat, tetapi hal ini tidak diimbangi dengan kapasitas produksi. Ekspor dari Indonesia cenderung menurun. Indonesia sebagai salah satu Negara produsen kopi harus menjamin sisi produksi berkelanjutan. Selain kegiatan produksi harus parallel dengan isu social dan lingkungan.

“Program Scopi menjadi sangat penting. Sehingga Scopi harus bisa mendapat pengakuan dari pemerintah untuk atasi berbagai tantangan termasuk tren penurunan produksi kopi khususnya jenis robusta,” Executive Director ICO Roberio Da Silva mengatakan kepada Business News (18/10).

Scopi relatif baru di Indonesia, tetapi sudah menunjukkan kemajuan. Sektor swasta dan pemerintah bisa bersama-sama bekerja untuk pengembangan kopi. Pemerintah juga harus meningkatkan kesadaran pemangku kepentingan terutama petani untuk praktik pertanian yang baik serta pasca panen. “Selain itu, akses pembiayaan dari perbankan masih rendah. Sehingga tiga hal tersebut harus menjadi perhatian pemerintah. Indonesia sebagai Negara pertama di dunia yang memilik panduan praktik pertanian yang baik khususnya jenis robusta.” (SL)

Sumber: Business News

Share

No Comment

Comments are closed.