YAPKEMA pada trimester terakhir tahun 2017 memfokuskan kegiatan penguatan ekonomi masyarakat di Meepago dengan kaderisasi petani kopi di Dogiyai, Deiyai dan Paniai melalui program training perawatan kebun kopi dan pemrosesan pasca panen.

Direktur YAPKEMA, Hanok Herison Pigai (Kiri Bawah) pada pelatihan petani kader Deiyai – yapkema.dok

Selain itu YAPKEMA juga melanjutkan program rutin pendistribusian bibit kopi kepada para petani atau masyarakat umum yang tertarik untuk mulai menanam kopi. YAPKEMA juga membantu akses agar petani mendapatkan kepastian pasar untuk penjualan green bean (biji hijau) mereka dengan harga yang adil bagi petani dan pihak pembeli.

Pendistribusian bibit kopi

YAPKEMA telah berhasil mendistribusikan 500 pohon bibit kopi untuk pengembangan kopi di Distrik Dugudama, yang cukup jauh di pedalaman Meepago dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Mimika, melalui Sekretaris Kampung dan skema dana desa.

Distribusi 300 bibit pohon kopi dengan cuma-cuma juga dilakukan di Paniai.

Training 150 petani kader di Dogiyai, Deiyai dan Paniai

Training petani kader telah dilakukan sebanyak 4 (empat) kali pada trimester terakhir tahun 2017.

Sebanyak 10 orang petani kader, dua diantaranya perempuan, mewakili 7 Distrik di Kabupaten Dogiyai dilatih pertama kali pada tanggal 7-8 November 2017. Hari pertama meliputi materi-materi kelas perawatan pohon kopi dan pemrosesan pasca panen, dilanjutkan hari kedua dengan praktek di kebun kopi milik keluarga Yunus Tebai di Kampung Degemani Distrik Dogiyai.

Pelatihan ini berakhir dengan penyusunan Rancangan Kerja Lanjutan (RTL) bersama antara YAPKEMA dan Petani kader yang akan dievaluasi pada pertengahan Desember 2017. Dalam sekitar satu bulan komitmen awal kerja perubahan, semua petani memfokuskan RTL-nya untuk membersihkan kebun-kebun kopi masing-masing dan memulai pemangkasan pohon.

Sementara dalam satu bulan yang sama, YAPKEMA melakukan pemantauan lewat kunjungan ke kebun-kebun kopi tersebut dan mulai menyederhanakan modul pelatihan perawatan dan pemrosesan pasca panen milik SCOPI agar memudahkan pemahaman petani. Hasil pantauan tersebut dievaluasi pada bulan Desember sekaligus memberikan insentif sebagai wujud apresiasi terhadap komitmen kerja petani kopi untuk perawatan kebunnya.

Yapkema berkunjung untuk memantau perawatan pohon kopi di kebun milik Yunus Tebai di Genemani Dogiyai-yapkema.dok.jpg

Pada tanggal 20 hingga 23 November 2017 Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Dogiyai bekerja sama dengan SCOPI (Sustainable Coffee Platform of Indonesia) dan YAPKEMA menyelenggarakan pelatihan untuk 110 petani kader di Kabupaten Dogiyai mewakili seluruh Distrik di Dogiyai. Pelatihan ini menghadirkan beberapa Master Trainer SCOPI dari Jakarta.

Pelatihan berlangsung empat hari untuk dua kelompok besar petani di wilayah Kamuu dan Mapia, masing-masing dua hari. Model pelatihan yang digunakan mengambil contoh dari model yang telah lebih dulu diujicobakan YAPKEMA pada awal bulan November: yaitu materi kelas dan praktek di Kebun milik petani.

 

 

 

Training serupa berlanjut ke tanggal 28 November 2017 terhadap pelatihan terhadap 25 petani kader di Kabupaten Deiyai; dan sekitar 20 orang petani di Kabupaten Paniai pada tanggal 4 Desember 2017. Keseluruhan pelatihan ini didampingi oleh trainer nasional dari SCOPI.

Secara keseluruhan training perawatan kebun dan khususnya pengenalan empat teknik pengolahan pasca petik kopi (natural process, honey process, semi washed dan full washed) dirasakan manfaatnya oleh para petani. Khususnya karena training hari ke-2 dilakukan langsung di kebun, sehingga para petani bisa melihat langsung perbedaan cara pemrosesan pasca petik tersebut.

Macam-macam pemrosesan pasca petik juga menjadi ilmu baru bagi para petani yang mayoritas adalah petani yang mewarisi kebun dari generasi ayah mereka. Biasanya mayoritas petani bahkan tidak memetik biji merah, dan membiarkannya jatuh atau memetik biji yang belum terlalu merah.

Pemrosesan pasca panen untuk kopi specialty adalah pengetahuan yang baru bagi petani di Dogiyai, Deiyai dan Paniai. 

Natal bersama petani kader Yapkema

Dalam rangka memperingati Natal 2017, lima orang petani kopi Arabika Dogiyai mendapat hadiah. Sebabnya karena dalam satu setengah bulan mereka telah berhasil menunjukkan kemajuan dalam perawatan pohon-pohon kopi serta berhasil menjual biji kopi hijau (green bean) terbanyak terhitung sejak 8 November 2017.

Hadiah tersebut diberikan oleh Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA), pada acara pertemuan petani kader kopi Arabika Dogiyai sekaligus Ibadah Natal bersama pada hari Senin (18/12/2017) lalu.

“Hadiah-hadiah ini tidak seberapa, hanya memacu motivasi merawat kebun kopi dengan baik agar panen hasil lebih banyak lagi, yang tentunya setelah dijual akan menambah pendapatan keluarga,” kata Frans Pigai, koordinator pemberdayaan petani kopi YAPKEMA, saat menyerahkan hadiah berupa peralatan pemangkasan pohon kepada pemenang pertama perawatan pohon kopi, Bapak Yunus Tebai dari Kampung Denemani, Distrik Dogiyai, Kabupaten Dogiyai.

Yunus Tebai adalah salah satu dari keseluruhan dua puluh satu orang petani kopi Arabika Dogiyai yang berkumpul di ruang kelas TK/PAUD Anugrah Ekemanida, Moanemani, pada pagi hingga siang hari itu.

Yunus memiliki tidak kurang dari 700 pohon kopi dari luas lahan sekitar 1ha milik keluarga istrinya.

700 pohon kopi tersebut mereka warisi dari ayahnya (Bapak mantu Yunus Tebai) yang telah menanam kopi sejak tahun 1980-an. Sayangnya, Ibu Tebai yang sebetulnya lebih aktif dan bersemangat memelihara kebun kopi mereka, kata Yunus, tidak dapat hadir pada acara pagi hari itu.

Namun, Yapkema menitipkan penghargaan berupa sejumlah uang kepada Ibu T ebai sebagai motivasi bagi para bapak dan ibu untuk bekerja sama merawat kebun kopi mereka.

Selain Ibu Tebai, penghargaan serupa juga diberikan kepada Ibu Anastasia Badii, istri dari Bapak Tua Gerardus Agapa yang memiliki pohon kopi terbanyak dari seluruh petani yang hadir: tidak kurang 1700 pohon dari sekitar 1,5ha lahan.

Karena Gerardus sudah semakin menua, Ibu Badii lah yang sekarang lebih aktif merawat pohon-pohon kopi mereka.

Keduapuluhsatu petani tersebut, enam diantaranya perempuan, adalah petani prioritas yang dipantau YAPKEMA pasca pelatihan petani kader yang dilakukan Yayasan itu 7 November 2017 lalu. Pelatihan perawatan kebun dan pengolahan kopi Arabika pasca panen saat itu menyepakati beberapa rencana kerja lanjutan, terutama pembersihan kebun kopi.

Menurut Frans Pigai, sebelum pelatihan seluruh kebun para petani hampir menyerupai hutan kopi: lebat tak terawat. “Selama satu setengah bulan ini kami prioritaskan untuk memantau pembersihan kebun kopi mereka, yang meliputi pembersihan lahan dari gulma dan pohon-pohon penganggu, serta pemangkasan pohon kopi dan pohon-pohon pelindung: seperti lamtoro, cemara, dan buah merah,” ujarnya.

Frans menjelaskan, keluarga Yunus Tebai menjadi contoh karena dalam satu setengah bulan, dari kebun yang serupa hutan kopi kini telah terbuka oleh pemangkasan yang rapi serta kebun yang mulai terang dan mudah dilalui.

Bahkan, keluarga Yunus juga telah membuat para-para penjemuran biji kopi hijau di tengah-tengah kebunnya.

“Keluarga Yunus sangat bersemangat bekerja mengubah kebunnya jadi terang dan rapi, kerja tim (suami dan istri) di dalam keluarganya juga inspirasi yang baik, sehingga patut jadi contoh kepada petani kopi lainnya. Karena itu kami berikan hadiah,” ujar Hanok Herison Pigai, Direktur YAPKEMA yang juga Master Trainer Kopi Arabika, saat menjelaskan alasan Yunus Tebai juga mendapatkan hadiah sebagai juara umum di semua kategori.

“Tidak banyak lagi anak-anak muda yang mau  menanam kopi di Dogiyai ini, keluarga yang mendapat warisan kebun kopi pun tidak banyak yang merawatnya. Itu sebabnya hasil kebun kopi Dogiyai belum maksimal. Kita hanya pernah punya nama besar lewat Kopi Moanemani, tapi produktivitas kebun dan petani kita sebetulnya rendah,” kata Herison Pigai sambil mengulas kembali materi-materi perawatan kebun yang telah diajarkan pada pelatihan awal.

Andreas Tekege, petani kopi asal Modio, Mapia, Kabupaten Dogiyai, yang juga mendapatkan hadiah pertama sebagai penjual biji hijau terbanyak, menanggapi hal itu dengan senyum lebar.

Kepada Jubi dia mengatakan jadi merasa lebih bersemangat dibanding sebelumnya. “Hadiah-hadiah ini memang tidak seberapa dibanding acara-acara pemerintah, tetapi YAPKEMA sudah memotivasi petani ini semua untuk berubah, dan kami merasa positif. Saya semangat,” ujarnya.

Sejak awal November lalu Andreas sudah berhasil menjual hampir 600 kg green bean kepada Enauto Coffee, sebuah rintisan Unit Pengolahan Kopi yang juga digagas oleh YAPKEMA di Idakotu, Dogiyai. Hanok Pigai, penggagas UPH tersebut ingin agar petani Kopi Dogiyai mengetahui persis posisi dan peran mereka dalam rantai industri kopi Arabika dari hulu hingga hilir melalui pengkaderan tani kopi Arabika.

“Perayaan natal bersama yang sangat sederhana ini adalah awal ikatan dan wujud sukacita. Kami semua jadi lebih optimis dengan semangat dan perubahan cara kerja petani. Karena pemberdayaan petanilah fondasi kemajuan kopi Arabika Dogiyai untuk bisa memimpin kembali pasar kopi Arabika asal Meepago di nusantara,” ujar Herison Pigai.

Dia juga berharap Bupati Dogiyai, Jack Dumupa dan Wabup Oskar Makai, yang juga dilantik di hari yang sama (18/12) dapat menempatkan pengembangan Kopi Arabika Dogiyai sebagai prioritas pengembangan ekonomi rakyat di Kabupaten Dogiyai. “Saya berharap Bupati dan Wabup yang baru dapat meneruskan fondasi kerja pengembangan kopi yang telah diusahakan pemerintahan sebelumnya, khususnya oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Dogiyai,” ujanya sekaligus menutup acara tersebut.

Pengembangan UPH ‘Papua Enauto’

Akhirnya, sejak pertengahan Desember 2017, Unit Pengolahan Hasil (UPH) untuk penanganan proses pasca panen Kopi Arabika Dogiyai pada khususnya, dan Kopi Arabika di seluruh Meepago lainnya telah dioperasikan perdana.

UPH yang berlokasi di Idakotu, Moanemani Kabupaten Dogiyai ini dapat menampung hasil panen biji merah (cherry) dari petani untuk melwati proses penjemuran, penyortiran hingga roasting (sangrai kopi), pembubukan hingga pengemasan.

Beberapa produk contoh Roasted Coffee (Kopi Sangrai) dan Grounded Coffee (Kopi Bubuk) produksi Enauto telah diperkenalkan kepada jaringan dan bahkan beberapa mulai dijual.

Perkenalan rasa pertama dilakukan bersama petani kader saat perayaan Natal bersama di Ekemanida, Moanemani Dogiyai, 18 Desember 2017. Untuk pertama kalinya para petani itu merasakan seduhan kopi (cupping) dari salah satu kebun milik mereka sendiri.

UPH ‘Papua Enauto’ ini dikelola oleh unit usaha yang diinisiasi oleh YAPKEMA dan dimanajemeni secara terpisah.

Share

No Comment

Comments are closed.