Penyuluhan Malaria di Gereja Katolik Dimiya

70% KASUS MALARIA DI INDONESIA terjadi di Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Maluku Utara. Rata-rata nasional Annual Parasite Incidence (API) adalah 0,85. Sementara API di Papua ada-lah 31,93.

Papua adalah wilayah endemic malaria. Kabupaten dengan API tinggi umumnya berada di wila-yah pesisir. Populasi yang berisiko adalah mereka yang tinggal menetap di wilayah endemis malaria, misal-nya Nabire, Mimika, Waropen, Kota Jayapura, Kab. Jayapura, Kab. Agats, Kab. Keerom, Kab. Boven Digul, dan Kab. Merauke. Wilayah-wilayah itu belum bebas malaria.

Sejak 2015 Program Malaria Perdhaki GFATM-NFM di Papua berada di Kab. Nabire, Kab. Mimika, Kab. Keerom, Kab. Jayapura, Kota Jayapura, Kab. Merauke, Kab. Agats, Kab. Boven Digul, Kab. Jayawijaya, Kab. Paniai, dan Kab. Dogiyai.

Ikhtisar Kronologis berjalannya program

  • Juni 2015. Pelatihan SR dan SSR di Jayapura.
  • Agustus 2015. Pembentukan SSR Yapkema .
  • September 2015. Minilokakarya bersama dengan Pemerintah Kab. Paniai, Gereja, dan masyarakat di Aula Paroki S. Yusuf Enarotali
  • Oktober—Desember 2015. Pembentukan UKBM-UKBM
  • Februari 2016. Pelatihan kader dan tenaga kesehatan UKBM, bersama dengan SSR YKSK Nabire, dan SSR Primari di Nabire.
  • Maret-September 2016. Koordinasi persoalan logistik (RDT, OAM, dan Primaquine) dengan Dinas Kesehatan.
  • Juni 2016. Penyuluhan malaria perdana di masing-masing UKBM
  • Oktober 2016. Outreaching perdana di UKBM Mogeya dan UKBM Epouto. Kasus positif malaria di Mogeya. Penyuluhan kedua di tiap UKBM. Pergantian tenaga kesehatan di UKBM Obaiyoweta dan UKBM Ugidimi.
  • November 2016. Outreaching perdana di UKBM Obaiyoweta dan UKBM Ugidimi. Penyuluhan di tiap UKBM
  • Desember 16– Januari 17. Kasus positif malaria di UKBM Mogeya dan UKBM Epouto. Penyuluhan malaria.
  • Februari 2017. Outreaching dan penyuluhan.
  • Maret 2017. Kegiatan di UKBM tidak berjalan.
  • April 2017. Outreaching.
  • Juni 2017. Kasus positif malaria di Obaiyoweta.
  • Juli-September 2017. Tidak ada kasus positif malaria. Pergantian tenaga kesehatan di UKBM Mogeya.

Profil Tenaga Kesehatan

Apriana Zonggonau, tenaga kesehatan di UKBM Ugidimi.

APRIANA ZONGGONAU, tenaga kesehatan di UKBM Ugidimi, bergabung dengan program ini pada Oktober 2016. Pada mulanya, ia belum mengerti tata laksana standar kasus malaria. Ia belum mengikuti pelatihan program malaria. Karena itu, ia dilatih secara singkat tentang pemeriksaan malaria menggunakan RDT, tata laksana pengobatan malaria, dan bagaimana program ini berjalan di lapangan.

Di Ugidimi ia dibantu oleh Sisilia Hanau, seorang kader kampung sejak waktu lama. Sekarang ia dibantu oleh Ike Kobogau, kader yang sedang dilatih oleh Sus-ter Zonggonau.

Dalam kunjungan ke kampung Ida I dan Ida II, ia tidak hanya menjalankan pro-gram malaria, tetapi juga memberikan pengobatan kepada masyarakat. Semangat dan jiwa pelayanan yang tinggi menjadi motivasinya untuk melayani orang-orang di kampungnya. Penduduk dari kampung sekitar, seperti Kolaitaga, Dama, dan Bibida datang dimana ia memberikan pelayanan. Semoga ke depan, layanan kesehatan seperti itu dapat ditingkatkan agar masyarakat dapat bebas dari sakit.

Selviana Bobi, seorang bidan yang bertugas di Puskesmas Yatamo.

SELVIANA BOBI, adalah bidan yang bertugas di Puskesmas Yatamo. Belum lama ini ia menyelesaikan pendidikan S1 kebidanan di Jombang, Jawa Timur. Ia melayani orang-orang di sekitar Danau Tage. Ia bergabung sejak program dimulai pada tahun 2016 dan mengikuti pelatihan di Nabire. Pengalaman training itu membuatnya mampu melatih tenaga-tenaga kesehatan yang bergabung belakangan. Di Puskesmas Yatamo, bersama dengan tenaga kesehatan yang lain dan berkat dukungan luar biasa dari Kepala Puskesmas, program malaria ia jalan-kan secara bersamaan dengan pelayanan vaksinasi dan pemeriksaan ibu hamil. Harapannya, orang-orang Papua bisa hidup lebih sehat dan berumur panjang. Angka kematian bayi dapat diturunkan. Pengetahuan masyarakat juga semakin membaik. Untuk program malaria, Ibu Bidan ini rajin ke Onepa dan Dimiya.

UKBM

UPAYA KESEHATAN BERSUMBERDAYA MASYARAKAT

UKBM EPOUTO

UKBM ini berada di Distrik Yatamo, di tepi Danau Tage. Berada dalam koordinasi dengan Puskesmas Yatamo, UKBM ini diawaki oleh Bidan Selviana Bobi, Feronika You (Kader), dan Lusia Mote (Kader). Kampung-kampung yang bisa dijangkau adalah Keniyapa, Onepa, Dimiya, Wotai, dan Akadagi. Karena penolakan dari pemuda setempat, Keniyapa hanya dilayani satu kali saja. Malaria tidak pernah menjadi kasus yang mencolok. Akan tetapi, dalam kegiatan keliling kampung, ditemukan kasus-kasus penyakit lain yang memerlukan tindakan lebih lanjut.

UKBM OBAIYOWETA

UKBM ini berada di Distrik Wegebino, di tepi Danau Paniai sisi timur, distrik pecahan dari Paniai Timur, yang hubungan daratnya Enarotali agak terhambat. Jumlah penduduk di Distrik ini sekitar 3.376 jiwa. UKBM ini diawaki oleh Yulius Giyai (mantri di Puskesmas Dei), Koleta Kayame (Kader di Kampung Obaiyoweta) dan Marthinus Gobay (Guru SD merangkap menjadi kader). Malaria juga tidak menjadi kasus besar. Namun, ditemukan di kampung ini kasus HIV/AIDS dan penyakit-penyakit yang lain yang tidak bisa ditangani.

PENCAPAIAN

Per September 2017

Jumlah Pemeriksaan RDT 655. Jumlah kasus positif 9 kasus. Sebarannya: UKBM Mogeya 7 kasus. UKBM Obaiyoweta dan UKBM Epouto masing-masing 1 kasus.

SSR Yapkema sudah menyelenggarakan 39 kali penyuluhan di keempat UKBM. Topik penyuluhan antara lain: penggunaan kelambu antimalaria , penyakit malaria, menjaga lingkungan, perilaku hidup sehat. Penyuluhan biasanya dilakukan di Gereja atau di sekolah. Pesertanya adalah penduduk sekitar, jemaat gereja, dan anak-anak.

Penyuluhan Malaria 2017

BEBERAPA TEMUAN

  1. Malaria Impor

Semua kasus positif di UKBM-UKBM berhasil diidentifikasi sebagai malaria impor. Apa itu malaria impor? Ka-sus penularan malaria terjadi di tempat lain dan kemudian si penderita berpindah sebelum malarianya dio-bati. Jadi, orang dengan malaria itu tertular di Nabire, atau Timika, atau Jayapura lalu ke Paniai. Penularannya tidak terjadi di Paniai. Dengan demikian hingga September 2017, SSR Yapkema belum menemukan kasus penularan setempat atau indigenous malaria. Mengacu pada hal itu, untuk Kab. Paniai, cukup mungkin kasus malaria terbanyak akan ditemukan di daerah yang mobilitas keluar masuknya tinggi.

  1. UKBM Mogeya Kasus Positif Terbanyak

UKBM Mogeya menyumbang kasus terbanyak , 7 kasus. Kasus-kasus ini diderita oleh pasien yang baru beper-gian ke luar Paniai Barat. Ada yang baru datang dari Nabire. Ada juga pelajar yang datang dari Jayapura da-lam rangka liburan Natal. Suster Yanuaria Uti menargetkan semua penduduk yang baru datang dari luar un-tuk periksa RDT. Dibanding empat UKBM lain, mobilitas keluar masuk Obano lebih tinggi.

  1. Pemeriksaan RDT tanpa Gejala Klinis

Tidak semua pemeriksaan RDT, sebanyak 655 test, berangkat dari gejala klinis. Banyak orang yang diperiksa itu datang ke petugas kesehatan tanpa gejala malaria tetapi menghendaki dirinya diperiksa. Kadang mereka datang dengan keluhan lain. Pemeriksaan itu tetap dilakukan untuk ―memenangkan hati‖ warga dengan memberikan rasa diperhatikan dan dilayani. Outreaching menjadi kesempatan yang langka bagi orang-orang di kampung untuk mendapatkan layanan kesehatan. Model layanan seperti ini terbukti memberikan pengaruh pada perubahan perilaku masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan. Mungkin selama ini orang-orang terkendala dalam transportasi.

  1. Kemampuan Tatalaksana Kasus Malaria Rendah

Kasus positif yang dilaporkan ada 9. Semestinya kasus positif ini lebih dari 9, sebab ada beberapa RDT yang dibaca keliru. Di Ugidimi terjadi. Di Obaiyoweta juga terjadi. Kekeliruan itu baru disadari ketika verifikasi pem-bacaan RDT. Ini murni kekeliruan tenaga kesehatan. Dari 9 kasus positif itu ada yang diobati dengan takaran yang standar, namun banyak yang takaran tidak tepat atau tidak sesuai dengan dosis standar. Pembekalan yang kurang mencukupi untuk tenaga kesehatan dan kapasitasnya membuat kesalahan itu bisa terjadi. Im-plikasi, jika kesalahan-kesalahan seperti itu ditemukan dalam program malaria, terbuka kemungkinan kesala-han sejenis terjadi dalam tatalaksana kasus-kasus yang lain.

  1. Dampak Langsung Penyuluhan Tidak Terukur atau Terobservasi

Penyuluhan-penyuluhan yang secara rata-rata hampir 10 kali untuk masing-masing UKBM hampir tidak relevan untuk mencapai tujuan eliminasi kasus malaria. Hasil atau dampak langsung yang di-harapkan dari penyuluhan itu tidak terukur dan tidak teramati dalam program ini. Indikator-indikatornya tidak terumuskan. Di samping itu, kurang relevan karena muatan penyuluhan ini kurang bertalian langsung dengan keadaan alam Paniai yang bukan endemic malaria. Artinya, pengetahuan yang didapatkan peserta penyuluhan tidak berkaitan erat dengan kebutuhan riil mereka dalam menghadapi ancaman malaria.

  1. Belum Terintegrasi dengan Program Pemerintah

Kehadiran program ini pada 2015 disosialisasikan kepada pemerintah lokal. Program pemberantasan malaria ini adalah program pemerintah pusat, sehingga program ini juga ada di Dinas Kesehatan setempat. Logistik keperluan program disediakan oleh program melalui Dinas Kesehatan setempat. Tenaga kesehatan dilibatkan dari instansi kesehatan milik pemerintah, yaitu Puskesmas terdekat. Akan tetapi, proses berjalannya program ini miskin koordinasi dengan pemerintah. Ini seperti ber-jalan masing-masing. Padahal, seandainya terjadi sinergi yang levelnya lebih tinggi, program-program semacam ini bisa menjadi inovasi atau rintisan untuk pembangunan bidang kesehatan dengan target yang lebih luas dan manfaat lebih besar bagi masyarakat serta menjadi sustainable di masa depan.

TANTANGAN KE DEPAN

  1. Edukasi Kesehatan secara Umum

Susana ruangan kelas tempat penyuluhan di Mogeya. Kader Alfrida Pigai sedang menjelaskan penyakit malaria.

Keberhasilan program kesehatan, seperti halnya malaria, sebagian bergantung pada pengetahuan/pendidikan masyarakat. Peningkatan pengetahuan masyarakat dapat berdampak pada perubahan perilaku kesehatan. Pengetahuan men-jadi variable penting untuk mengakses layanan kesehatan dan juga membangun perilaku hidup sehat yang berkontri-busi pada derajat kehidupan penduduk. Secara strategis, pendidikan kesehatan ini bisa menjadi bagian dari muatan lo-kal di kurikulum sekolah-sekolah sejak Pra-SD hingga SLTA. Pada tingkat yang paling mendasar adalah pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat. Kampanye dan gerakan hidup sehat cukup relevan untuk membangun masyarakat sehat.

  1. Meningkatkan Akses Masyarakat dan Kualitas Layanan Kesehatan yang Standar

Ini adalah tantangan yang cukup serius untuk Kabupaten Paniai. Layanan kesehatan merupakan salah satu hak dasar dari warga Negara. Akses yang dimaksud di sini tidak sama dengan infrastruktur dan trans-portasi yang memungkinkan penduduk untuk bisa mencapai Puskesmas atau rumah sakit. Melain-kan, jenis layanan dan kualitas layanan yang dibutuhkan oleh mere-ka. Langkah taktis yang cukup bisa ditempuh untuk menjawab tan-tangan ini adalah dengan melakukan akreditasi Puskesmas-Puskesmas. Proses ini akan mengembangkan Puskesmas untuk memproduksi layanan yang standar. Termasuk dalam poin ini adalah peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, atau mengadakan tenaga kesehatan yang dibutuhkan, agar bisa menjawab kebutuhan riil di lapangan. Maka, menyusun target dengan indica-tor-indicator yang rinci adalah suatu keharusan. Perencanaan pembangunan bidang kesehatan, dengan basis data yang mencukupi, tidak bisa dielakkan. Belajar dari kenyataan kekeliruan tatalaksana program malaria—yang membuka kemungkinan kekeliruan tatalaksana pada kasus yang lain—Dinas Kesehatan harus waspada dan mesti menempatkan petugas kesehatan yang kompeten dalam bidangnya.

  1. Membangun Partisipasi Warga

Keterlibatan warga melalui upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) yang sudah dirintis adalah satu modal social yang cukup penting. Untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan dalam bidang kesehatan, keterlibatan penduduk sekitar, yaitu kader, tidak dia-baikan. Pemerintah bersama dengan pihak-pihak lain (Pemerintah Desa, Gereja, dan tokoh adat) dapat memilih untuk melanjutkan nafas UKBM-UKBM yang ada dengan peran yang selama ini sudah dijalankan dan ke depan dapat dikembangkan menjadi lebih detil. Urusan kesehatan masyarakat adalah urusan bersama antara masyarakat dengan pemerintah. Memajukan kesehatan dengan pendekatan UKBM ini membuat masyarakat turut bertanggung jawab untuk kesehatan mereka. Kader –kader yang sudah mendapatkan training dapat men-jadi promotor kesehatan yang efektif, karena sangat mengerti kekhasan budaya setempat.

  1. Kewaspadaan terhadap Malaria Impor dan Penyakit-penyakit Non-Malaria

Setelah program malaria berjalan kurang lebih dua tahun dengan capaian seperti dipaparkan, tidak berarti bahwa malaria dapat dikate-gorikan bukan ancaman. Ini bertalian dengan mobilitas yang tinggi penduduk bergerak dari dan ke dataran rendah ke dataran tinggi. Kemungkinan untuk terinfeksi malaria selama berada di wilayah pesisir cukup tinggi. Angka malaria impor bisa cukup tinggi bersamaan dengan kedatangan penduduk dari dataran rendah. Maka, antisipasi dan kewaspadaan terhadap malaria impor tidak boleh turun. Kegiatan penemuan dini, pengobatan yang tepat, penemuan kasus secara aktif lewat mass blood survey, dan penguatan layanan harus dilakukan. Puskesmas-puskesmas harus tetap aktif mengantisipasi malaria impor dan melakukan tatalaksana yang tepat.

Selain itu, penyakit-penyakit non-malaria yang diderita oleh penduduk Paniai juga menuntut perhatian. Verifikasi lapangan terhadap ru-mor penderita kusta, atau tuberculosis, frambusia, perlu dilakukan untuk kemudian melakukan langkah-langkah penanggulangan yang standar.

  1. Isu Kesehatan dalam Pemerintah Desa

Isu kesehatan sebaiknya dimasukkan dalam rencana pembangunan tingkat kampung. Pemerintah Desa perlu membahas peran mereka dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Peraturan Menteri Desa No. 19/2017 sudah menetapkan prioritas penggunaan dana desa tahun 2018. Dalam bidang pemberdayaan disebut bahwa prioritasnya adalah ―penigkatan kualitas pelayanan social dasar: 1) pengel-olaan kegiatan pelayanan kesehatan a. penyediaan air bersih; b. pelayanan kesehatan lingkungan; c. kampanye dan promosi hidup sehat guna mencegah penyakit menular, penyakit seksual, HIV/AIDS, tuberculosis, hipertensi, diabetes mellitus dan gangguan jiwa; d. bantuan insentif untuk kader kesehatan masyarakat; pemantauan pertumbuhan dan penyediaan makanan sehat untuk peningkatan gizi bagi balita dan anak sekolah; f. kampanye dan promosi hak-hak anak, keterampilan pengasuhan anak dan perlindungan anak, g. pengelolaan balai pengobatan desa dan persalinan; h. perawatan kesehatan dan/atau pendampingan untuk ibu hamil, nifas, dan menyusui; i. pengobatan untuk lansia; j. keluarga berencana; k. pengelolaan kegiatan rehabilitasi bagi penyandang disabilitas; l. pelatihan kader kesehatan masyarakat; m. pelatihan hak-hak anak, keterampilan pengasuhan anak dan perlindungan anak; n. pelatihan pangan yang sehat dan aman; o. pelatihan kader desa untuk pangan yang sehat dan aman; p. kegiatan pengelolaan pelayanan kesehatan masyarakat desa lainnya yang sesuai dengan kewenangan desa dan diputuskan dalam musyawarah desa.‖ Peraturan itu menjadi paying hukum sekaligus peluang untuk mengintegrasikan beberapa isu kesehatan ke dalam rencana pembangunan di desa.

Itulah beberapa tantangan ke depan yang mulai sekarang bisa diidentifikasi dan menuntut pemikiran dan respon lebih lanjut. Selain itu, boleh jadi ada tantangan-tantangan lain yang luput dari observasi kami.

PEMBELAJARAN

PROGRAM MALARIA dengan pendekatan UKBM ini sesungguhnya adalah program pemberdayaan masyrakat. Intinya, melalui program ini masyarakat diajak untuk terlibat dan turut bertanggung jawab atas kesehatan mereka, dengan menggunakan kekuatan mereka. Per-tanyaan pembelajaran kami adalah: Bagaimana proses ini dapat berjalan dengan kurang lebih baik?

Pertama-tama, kami sepakat bahwa masyarakat harus bertanggung jawab atas hidup mereka. Tidak bisa dan tidak wajar jika semua mulai dari lahir sampai mati secara total menjadi tanggung jawab pemerintah. Melalui Puskesmas, pemerintah bisa mengadakan obat-obatan dan membayar gaji dokter dan para perawat. Akan tetapi, adanya obat dan para tenaga medis belum mencukupi, jika masyarakat tidak memiliki pengetahuan dan perilaku yang menunjang hidup sehat. Persis pada bidang inilah concern kami. Ini pula yang menjadi titik ren-dah dalam masyarakat kita, yang memang kurang dibekali dengan pendidikan kesehatan informal. Pembelajaran pertama, pengetahuan dan perilaku sehat sangat penting. Informasi yang benar perlu terus menerus disebarkan. Peningkatan derajat kesehatan ini menuntut perubahan perilaku. Siapa yang bisa mendorong perubahan perilaku itu? Apakah cukup dengan serangkaian penyebaran informasi? Sepertinya tidak.

Proses pemberdayaan yang baik bertolak dari dalam masyarakat itu sendiri. Perubahan perilaku juga mesti berawal dari antara masyara-kat sendiri.

MENGEMBANGKAN JARINGAN PERUBAHAN untuk mewujudkan masyarakat sehat bisa menjadi daya penggerak untuk perubahan yang diharapkan. Selama program ini dijalankan, SSR Yapkema menilai kurang memaksimalkan kerja jaringan dengan Gereja, baik Kingmi ma-pun Katolik, untuk menyebarkan pengetahuan dan merintis perubahan perilaku. Sebagai institusi otoritatif, Gereja dapat menjadi actor yang lebih efektif untuk menggemakan pesan-pesan hidup sehat, dan juga dapat menjadi komunitas pelopor perubahan. Selain Gereja, sekolah-sekolah merupakan pilihan yang tepat mengingat di situ terdapat banyak anak. Lalu, jaringan juga perlu dihidupkan dengan tokoh-tokoh atau orang-orang yang memiliki otoritas seperti kepala kampung, gembala, pewarta, guru, pastor, dll. Sementara ke dalam, soliditas pengelola program bersama dengan tenaga kesehatan dan kader-kader perlu terus diperkuat. Komitmen untuk mencapai tujuan dan dedikasi kepada pelayanan hendaknya terus diperbarui. Dan, sepanjang program ini berjalan, poin itulah yang rasanya masih sangat tipis. Program berjalan tetapi sense of commitment belumlah mencolok. Soal ini bukan hanya dalam program malaria, di banyak tempat atau kantor, pun terjadi.

Kerjasama dengan pemerintah, Gereja, dan pihak-pihak lain sangat diperlukan agar tujuan yang ditetapkan dapat tercapai, yaitu masyara-kat mendapatkan manfaat secara maksimal.

PENDAMPINGAN UKBM KE DEPAN sangat strategis untuk mengembangkan inovasi pembangunan bidang kesehatan yang bersumber daya masyarakat. Pelatihan-pelatihan dan sajian contoh-contoh best practices yang ada di tempat lain dapat membantu para kader se-makin bisa mengambil peran. Selama ini para kader yang memang berasal dari masyarakat setempat sangat memperlancar program ini. Mereka dapat menjadi ―jembatan penghubung‖ antara penduduk dengan layanan kesehatan. Kader kampung merupakan actor yang cukup penting. Namun penting juga untuk melakukan monitoring yang cukup agar para kader sungguh-sungguh menjalankan perannya di kampung.(*)

PROGRAM MALARIA PERDHAKI GFATM-NFM

SSR (Sub Sub-Recipient) YAYASAN PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Profil program pemberantasan Malaria Yayasan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) didukung oleh PERDHAKI GFATM-NFM

Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) ada di: UKBM Epouto, UKBM Mogeya, UKBM Obaiyoweta, UKBM Ugidimi

Tenaga kesehatan: Selviana Bobii (Puskesmas Yatamo), Apriana Zonggonau (Puskesmas Bibida), Yulius Giyai (Puskesmas Dei), Yulianus Pigome (Puskesmas Kegouda)

Hanok Herison Pigai (Kepala SSR), Johanes Supriyono (Program Manager), Ance Boma (Keuangan dan administrasi), Wilayah kerja: Distrik Wegebino, Distrik Yatamo, Distrik Paniai Barat, Distrik Bibida.

Jalan Geketoby Degei, Ugibutu, Enarotali.

Kab. Paniai, Papua

yapkema.ssr@gmail.com

www.yapkema.org

 

Link berita kegiatan:

http://suarapapua.com/2017/10/14/yapkema-malaria-impor-dominan-di-paniai/

 

Share

No Comment

Comments are closed.