73194300_1417406630-Hari-Aids-1-20141201-JohanJayapura, Jubi – Memperingati hari HIV/AIDS se-dunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember 2015, Yayasan Pembangunan Kesehatan Masyarakat (YAPKEMA) Paniai, Papua menyerukan stop HIV/AIDS dan stop kekerasan di wilayah adat Meepago, yakni Kabupaten Paniai, Deiyai dan Dogiyai.

Direktur YAPKEMA, Hanok Harison Pigai mengatakan, pemikiran utama dalam menyelenggarakan kegiatan itu adalah untuk menghindari diri dari bahaya penularan HIV/AIDS.

Pawai tersebut diawali dengan mengelilingi Enarotali, ibu kota Kabupaten Paniai dan berorasi di lapangan Karel Gobay Enarotali, Selasa, 1 Desember 2015, mulai pukul 09.00 – 10.30 WIT, sedangkan di Waghete, Deiyai orasi penyelamatan orang dari bahaya HIV/AIDS di lapangan Thomas Adii sekitar pukul 11.00 – 12.00 WIT dan dilanjutkan ke Moanemani, Kabupaten Dogiyai. Dilakukan pawai mulai pukul 12.30 WIT hingga jam 15.30 WIT. Setelah pawai di tiga kabupaten tersebut dilanjutkan dengan pemutaran film tentang HIV/AIDS di terminal Moanemani.

“Sehingga itu kita bisa membedahkan antara daerah yang tinggi penularan HIV dan daerah yang tingkat penularannya rendah,” katanya kepada Jubi melalui seluler, Selasa (1/12/2015).

Dijelaskan Pigai, tujuan lain digelarnya kegiatan tersebut untuk mengedukasi masyarakat tentang HIV/AIDS kepada masyarakat adat di 3 kabupaten ini, yakni Paniai, Deiyai dan Dogiyai.

“Dalam penyampaian orasi-orasinya kami fokuskan pada 4 hal pokok, yaitu jumlah pengidap HIV/AIDS sudah cukup banyak dan mereka semua adalah anak-anak muda,” terang Hanok.

Menurutnya, banyak orang yang putus minum obat dan minum ramuan-ramuan saja, padahal ramuan itu tidak menyembuhkan. Hanya ARV yang bisa membuat orang HIV umur panjang. “Banyak orang miras dan main togel terus di Enarotali, Moanemani dan Waghete. Juga stop perilaku masyarakat yang sangat beresiko terhadap seks bebas,” katanya.

Dari data yang dihimpun pihaknya, Hanok menjelaskan, akhir-akhir ini di wilayah adat Meepago penularan HIV/AIDS kepada orang yang baru mengidap HIV cukup tinggi. Namun ia tidak menyebutkan berapa jumlah pengidap yang dimaksudnya.

“Hal itu menggambarkan bahwa pengetahuan tentang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS belum begitu terjangkau pada seluruh masyarakat mulai dari yang ada di kota maupun sampai kepada orang-orang yang berada di daerah terisolasi (kampung dan dusun) atau mungkin juga karena informasi tentang HIV/AIDS tidak berkualitas atau bisa juga karakter orang yang agak susah meninggalkan hal-hal yang beresiko,” tuturnya.

Lanjutnya, jika demikian penyebaran informasi tentang HIV/AIDS harus di lakukan secara terus-menerus kepada masyarakat di wilayah Meepago. “Banyak orang mati karena HIV dan karena kekerasan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, maka itu kita jangan diam menghentikan kematian-kematian ini di wilayah adat Meepago,”ajaknya.

Tokoh masyarakat di Paniai, Yan Pigai (47) mengatakan, di hari bersejarah, yakni kemerdekaan negara West Papua ini harus hidup panjang hingga beranak cucu di atas tanah ini.

“Kampanye HIV/AIDS yang dilakukan oleh Yapkema ini sangat luar biasa. Kami disadarkan bahwa kita orang Papua di HUT West Papua ini yang ke-54 tahun ini kita sadar bahwa kita ini Papua bukan lagi orang lain,” ujar Yan Pigai. (Abeth You)

Sumber: tabloidjubi.com.

No Comment

Comments are closed.